Mengenai Saya

Foto saya
kami adalah mahasiswa pendidikan sejarah.. mahasiswa yang selalu dicerca, yang hanya mempelajari masa yang telah berlalu... namun kami punya keyakinan semua ada ahlinya, dan kami adalah mahasiswa yang mempunyai sedikit kelebihan dalam mempelajari sejarah.

Selasa, 10 Maret 2009

SESKOAD 1951-1973

Membuka lembaran sejarah bangsa, mau tidak mau, membuka pulalah memori kita akan anak-anak; jiwa-jiwa penuh nyala dan semangat yang tanpa kenal lelah senantiasa berdiri di garda terdepan perjuangan bangsa: MILITER. Penuh intrik, gelimang darah, siasat. Kiranya itulah sekelumit kesan yang kemudian dapat tertangkap secara kasat di balik sosok gagah berselimut baju loreng tersebut.
Lahir melalui surat keputusan Kasad Nomor: 44/KSAD/KPTS/51 Tanggal 17 Maret 1951, Seskoad merupakan Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat, candradimuka bagi perwira-perwira TNI AD (Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat) sebelum menduduki jabatan staf umum dan komando satuan tingkat komando, serta tingkat resimen tim pertempuran. Kajian tentang Seskoad, kiranya merupakan hal yang penting mengingat kondisi militer Indonesia yang merapuh akhir-akhir ini. Data yang dihimpun oleh Global Fire misalnya, menyebutkan bahwa sebagai negara yang berada di urutan ke-48 tertinggi pengguna anggaran militer, Indonesia “hanya” memiliki 923.000 personel militer dengan 613 aircraft, 969 armor, 700 arteleri, 91 missile defense system, 121 naval unit. Terkait dengan Gerakan Tiga Puluh September 1965, Seskoad pun memegang peran penting dalam pertarungan politik dan sosial yang melilit Indonesia. Selain itu, Seskoad pun kiranya merupakan salah satu mata rantai untuk mengulik kehidupan Soeharto. Terkait dengan hal tersebut, tulisan di bawah ini bermaksud mengulas Seskoad sejak tahun berdirinya sampai tahun 1973.
Sebagaimana yang telah dikemukakan di paragraf sebelumnya, Seskoad lahir melalui surat keputusan Kasad Nomor: 44/KSAD/KPTS/51 Tanggal 17 Maret 1951. Seskoad merupakan nama baru untuk SSKAD per 1961. Sebagai komando SSKAD pertama, ditugasi Letkol Maryadi yang ada pada waktu itu menjabat juga sebagai Komandan Korps MBAD.
Adapun tugas pokok dari Seskoad adalah menyelenggarakan pendidikan pengembangan umum tertinggi di lingkungan TNI AD dan menyelenggarakan pengkajian dan pengembangan matra darat dan masalah-masalah strategis. Guna terlaksananya tugas pokok tersebut, Seskoad menyelenggarakan fungsi-fungsi sebagai berikut: (1) fungsi utama terdiri dari pendidikan dan pengajaran, meliputi segala usaha dan pekerjaan dan pengkajian dan pengembangan meliputi segala usaha, pekerjaan dan kegiatan di bidang pengkajian dan pengembangan, sistem pendidikan, pengembangan umum tertinggi TNI AD, materi kejuangan, doktrin dan kekuatan pertahanan negara aspek darat tingkat strategis, (3) fungsi organik militer meliputi segala usaha, pekerjaan dan kegiatan di bidang pengamanan, pendidikan dan latihan, personel, logistik, dan administrasi umum, dalam rangka mendukung tugas pokok Seskoad, dan (4) fungsi organik pembinaan meliputi segala usaha, pekerjaan dan kegiatan di bidang perencanaan dan anggaran pengorganisasian, pengendalian dan pengawasan dalam rangka mendukung tugas pokok Seskoad.
Bertujuan untuk menyiapkan dan meningkatkan jati diri Pamen Senior TNI sebagai kader Pimpinan TNI di masa datang yang mampu melaksanakan tugas berlingkup strategis dalam rangka pertahanan negara, Seskoad menyelenggarakan pendidikan yang dikategorikan dalam tiga tahap. Pertama, tahap I, dilaksanakan 10 Minggu, dititik beratkan pada mata pelajaran Kepemimpinan dan Kejuangan, dengan metode kuliah, diskusi pemecahan persoalan dan diakhiri dengan penulisan karya tulis singkat (tugas terstruktur) 20-25 halaman, 10 Kertas Karya Acuan (KKA) dan 10 kali diskusi. Kedua, tahap II, dilaksanakan 10 Minggu (371 JP) dengan menitikberatkan pada mata pelajaran Manajemen dan Strategi untuk Mencapai Kemampuan Perencanaan Strategis Pertahanan Negara, dengan metode kuliah, Diskusi Pemecahan Persoalan, Diskusi Pendalaman dan Geladi Waskita Dharma, Geladi Yudha Dharma, serta sebagai puncaknya adalah penyusunan Karya Tulis Singkat (Tugas Terstuktur) 20-25 halaman, 6 KKA dan 6 Diskusi. Ketiga, tahap III, dilaksanakan selama 11 Minggu (398 JP), dititik beratkan pada Mata Pelajaran Operasi Gabungan dengan metode Kuliah, Diskusi Studi Kasus, Diskusi Aplikasi dan Geladi Kriya Yudha, 2 KKA, 2 Diskusi dan seminar.
Kursus SSKAD angkatan pertama dibuka pada tanggal 17 November 1951 oleh wakil Presiden RI Drs. Moh. Hatta dengan peserta 26 orang siswa berpangkat kapten dan mayor. Dalam kurikulum SSKAD, ada dua jenis pendidikan yaitu kursus taraf I dan II namun pada periode ini kursus taraf I baru dapat dilaksanakan. Adapun kurikulum yang diselenggarakan meliputi: (1) kursus ilmu perang, (2) kursus komandan resimen tim pertempuran,( dan 3) kursus persamaan Danyon dan kursus lain-lain yang bersifat gabungan kecabangan dan dinas. Komandan SSKD pada periode ini adalah Letkol Inf Maryadi. Letkol Inf AJ. Mokoginta dan Kolonel Latief Hendradiningrat.
Seiring dengan meruncingnya situasi politik nasional pada periode 1958-1961, sejak tahun 1959 tugas dan fungsi SSKAD diperluas dan diberi tugas tambahan menyelenggarakan kursus orientasi masalah pertahanan, dengan peserta kursus terdiri dari para perwira TNI AD dan Angkatan lain serta para pejabat lingkungan departemen dan instansi non militer. Pada periode ini, untuk pertama kalinya diadakan seminar yang membahas masalah pertahanan I, serta perubahan nama SSKAD menjadi Seskoad yang tetap digunakan sampai sekarang.. Adapun komandan Seskoad pada periode ini adalah Kolonel Inf Latief Hendraningrat dan Kolonel Inf Suadi Suromiharjo.
Seiring dengan meningkatnya 1961-1973 berbagai peristiwa politik yang berskala nasional, regional maupun internasional yang melibatkan ABRI/ TNI AD, Seskoad melakukan berbagai seminar untuk kepentingan ABRI dan Nasional. Setelah peristiwa G 30 S/PKI pada tahun 1966, Seskoad mengadakan seminar Angkatan Darat II. Seminar ini merupakan tomnggak sejarah bagi pengabdian TNI AD dalam kehidupan berbagsa dan bernegara. Sebab, selain menghasilkan doktrin perjuangan AD Tri Ubaya Cakri, seminar ini berhasil mewujudkan strategi idealisme antar komponen orde baru di dalam dan di luar TNI AD untuk memperjuangkan dimulainya era pembangunan nasional. Hasil seminar Angkatan Darat II ini kemudian diakui sebagai sumber pokok kebijaksanaan pemerintahan orde baru, terutama di bidang sosial politik dan ekonomi. (GA)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Loading...