Mengenai Saya

Foto saya
kami adalah mahasiswa pendidikan sejarah.. mahasiswa yang selalu dicerca, yang hanya mempelajari masa yang telah berlalu... namun kami punya keyakinan semua ada ahlinya, dan kami adalah mahasiswa yang mempunyai sedikit kelebihan dalam mempelajari sejarah.

Minggu, 15 Maret 2009

PERKEMBANGAN FILSAFAT YUNANI


A. Filsafat Pra – Sokrates


Filsafat mulai berkembang sekitar abad 6 sebelum Masehi. Nama-nama yang menjadi filusuf pertama berasal dari Miletos yang letaknya di pesisir Asia kecil. Filusuf-filusuf tersebut yang pertama adalah Thales (625 – 545 SM), kemudian Anaximandros ( 610 – 540 SM) dan Anaximenes (538 – 480 SM). Bagaimana persisnya isi ajaran mereka, sulit untuk diketahui karena karangan-karangan mereka banyak yang hilang. Hal tersebut dikarenakan sebelum Plato, hasil karya para filusuf belum dibukukan secara lengkap.
Mereka adalah filusuf alam, artinya mereka adalah para ahli piker yang menjadikan alam yang luas dan penuh keselarasan ini menjadi sasaran pemikiran mereka. Karena mereka ditakjubkan oleh alam yang penuh keanekaragaaman dan gerak ini, mereka menanyakan kepada soal apa ada di belakang semua itu.filsafat mereka meliputisegala sesuatu yang sekarang disebut ilmu pengetahuan seperti ilmu pasti, ilmu alam, ilmu bintang-bintang, ilmu hayat, ilmu kedokteran dan politik. Sehingga hal yang diperhatikan oleh fisuf pertama adalah alam, bukan manusia.
Filusuf berikutnya adalah Herakleitos yang tinggal di Ephesos, ia menyangka bahwa api merupakan asas yang pertama dan merupakan dasar dari segala sesuatu yang ada. Semboyannya yang terkenal adalah panta rhei yang berarti semuanya mengalir. Setelah Herakleitos, Pythagoras yang menyampaikan ajarannya yang pertama bahwa suatu yang berdiri sendiri, yang tidak berjasad serta tidak dapat tumbuh. Yang kedua yaitu bahwa asas pertama segala sesuatu adalah bilangan, yang wujudnya satu kesatuan. Hingga ajarannya terkenal dengan “dalil Pythagoras”. Kemudian filusuf lainnya yaitu Xenophanes (570 – 480 SM) yang dilahirkan di Kolofon yang melihat kesatuan sebagai asas segala kenyataan yang ada. kemudian di Elia, lahirlah Paramenides, ia adalah filsuf pertama yang mempraktekkan cabang filsafat yang disebut metafisika, menurutnya “ yang ada itu ada”.
Zeno yang lahir tahun 490 SM merupakan murid Parmenides yang mencoba membuktikan, bahwa gerak adalah suatu khayalan, dan bahwa tiada kejamakan serta tiada ruang kosong. Empedokles (492 – 432 SM), lahir di Akragas, Sisilia. Karyanya yaitu: tentang alam dan tentang penyucian, atau suatu pemikiran filsafati tentang alam dan suatu buah pikiran yang bersifat mistis-keagamaan. Filsuf selanjutnya adalah Anaxagoras (499 – 420 SM) menurut dia kenyataan bukan satu, sebab kenyataan terdiri dari banyak analisir, yang masing-masing memiliki kualitas yang sama dengan kualitas “yang ada”, yaitu: tidak dijadikantidak berubah dan berada di ruang yang kosong. Dua filsuf yang terakhir sebelum Sokrates adalah Leukippos dan Demokritos. Keduanya adalah filsif yang mengajarkan tentang atom. Leukippos adalah orang yang pertama mengajarkan tentang atom. Tetapi filsuf atomic yang lebih kita ketahui adalah Demokritos (460 – 370 SM). Demokratos mengajarkan bahwa kenyataan bukan satu saja, tetapi terdiri dari banyak unsur.

B. Sokrates (469 – 399 SM)

Sebelum Sokrates, ada sebuah aliran yang bernama Sofisme. Sofisme merupakan suatu aliran, suatu gerakan dalam bidang iptek, berdasarkan perkembangannya sebelum abad ke 5, sofis berarti sarjana, cendekiawan. Salah seorang sofis, Protogoras mengajarkan ”manusia adalah ukuran untuk segala-galanya, tak ada sesuatu pun yang benar, yang baik, yang bagus pada dirinya, semua dianggap benar, baik atau bagus dalam hubungannya dengan manusia.
Sokrates sangat menentang ajaran tersebut, ia membela ” yang benar” dan ”yang baik” sebagai nilai-nilai objektif yang harus diterima dan dijunjung tinggi oleh semua orang. Dalam proses pembelajarannya,ia menanyakan pada bermacam-macam orang, misalnya mengenai pekerjaan mereka, kehidupan mereka, dan lain-lain. Kemudian jawaban tersebut dianalisis dan disimpulkan sebuah hipotese yang kemudian diungkapkan lagi kepada mereka, dan kemudian dianalisis kembali, demikan terus menerus hingga ia menemukan tujuannya, yaitu: membuka kedok segala peraturan atau hukum-hukum yang semu, sehingga tampak sifatnya yang semu, dan mengajak orang melacak atau mengelusur sumber-sumber hukum yang sejati.
Sokrates melakukan pengajaran yang disebut dialektika, karena dalam pengajaran itu dialog memegang peranan penting, dan maieutika, seni kebidanan, karena dengan cara ini Sokrates bertindak seperti seorang bidan yang menolong kelahiran bayi. Sokrates juga menemukan cara berpikir yang disebut induksi, yaitu menyimpulkan pengetahuan yang sifatnya umum dengan berpangkal dari banyak pengetahuan tentang hal yang khusus. Secara singkat rangkuman dari ajaran Sokrates adalah:
Jiwa manusia bukanlah nafsunya semata-mata, tetapi asas hidup manusia dalam arti yang lebih mendalam. Jiwa itu adalah inti sari manusia, hakekat manusia sebagai pribadi yang bertanggung jawab. menurut Sokrates alat untuk mencapai kebahagiaan (eudainonia) ialah kebijakan atau keutamaan (arete). Hidup baik yaitu mempraktekan pengetahuannya tentang hidup yang baik, karena menurut Sokrates ”keutamaan adalah pengetahuan”.
Pandangan Sokrates tentang negara tidak terrinci dengan jelas, Sokrates memiliki asas-asas etika kenegaraan yaitu: negara mempunyai tugas untuk mewujudkan kebahagiaan warga negaranya, membuat jiwa mereka sebaik mungkin. Sehingga sebagai penguasa harus mengetahui ” apa yang baik”. Di dalam pemerintahan yang terpenting bukan demokrasi, atau suara rakyat, tetapi keahlian yang khusus, yaitu pengenalan tentang ”yang baik”.
Akhir kehidupan Sokrates, ialah karena keberaniannya Sokrates akhirnya dijatuhi hukuman mati. Ia dihukum meminum cawan berisi Racun.

C. Plato (427 – 347 SM)


Plato adalah anak seorang Bangsawan di Athena, selama 8 tahun ia menjadi murid Sokrates. Plato mendirikan sekolah ”Akademi” yang bertujuan untuk memberikan pendidikan yang intensif dalam pengetahuan dan filsafat. Karya Plato antara lain buku: Apologia, Politeia, Sophistes, Timaios, dll.
Plato memiliki pendapat, tidak mungkin seandainya yang satu mengucilkan yang lain. Artinya, bahwa mengakui yang satu, harus menolak yang lain. Juga tidak mungkin, bahwa kedua-duanya berdiri sendiri-sendiri, yang satu lepas dari pada yang lain. Plato ingin mempertahankan keduanya, memberi hak pada keduanya. Plato juga dapat menjembatani pertentangan antara Herakleitos yang menentang tiap perhentian, dan Parmenides, yang menyangkal tiap gerak dan perubahan. Yang tetap, yang tidak berubah,yang kekal tersebut oleh Plato disebut dengan ”Idea”. Idea bersifat objektif, berdiri sendiri, lepas dari subyek yang berpikir, tidak bergantung pada pemikiran manusia, akan tetapi justru sebaliknya, idealah yang memimpin pikiran manusia.
Perbedaan antara Plato dan Sokrates yaitu: Sokrates mengusahakan adanya definisi tentang hal yang bersifat umum guna menentukan hakekat atau esensi segala sesuatu. Sedang Plato berusaha untuk meneruskan usaha tersebut secara lebih maju lagi dengan mengemukakan, bahwa hakekat atau esensi segala sesuatu bukan hanya sebutan saja, tetapi memiliki kenyataan, yang lepas dari sesuatu yang berada secara kongkrit, yang ia sebut sebagai Idea. Idea-idea tersebut ada dalam dunia Idea. Menurut Plato, dia tidak menganggap dunia itu jahat dan perlu dihindari, justru dunia harus diatur oleh manusia.
Ajaran Plato tentang jiwa, jiwa adalah berdiri sendiri, jiwa dan tubuh adalah dua kenyataan yang harus dibeda-bedakan dan dipisahkan. Jiwa adalah sesuatu yang adikodrati, yang berasal dari dunia idea dan oleh karenanya bersifat kekal, tidak dapat mati. Karena hukuman maka jiwa terpenjara didalam tubuh. Disini sangat terlihat bahwa Plato percaya bahwa ada praeksistensi jiwa dan bahwa jiwa tidak dapat mati. Ia menekankan bahwa ada kebenaran yang diluar dunia ini, dan ada hal yang sempurna yang tidak dapat dicapai di dalam dunia ini. (Kemunginan besar itu mengarah kepada Surga).
Mengenai negara, Plato beranggapan bahwa, masalah pokok negara adalah keselamatan para orang yang diperintah, bukn keselamatan para orang yang memerintah. 3 golongan yang ideal menurut Plato yaitu:
1. Golongan yang tinggi
2. Golongan pembantu
3. Golongan terendah.
Dan tugas seorang negarawan adalah menciptakan keselarasan antara semua keahlian, agar supaya keselarasan itu terjamin. Menurut Plato: jika sudah ada negara yang memiliki UUD pemerintah yang baik adalah monarkhi dan yang terburuk adalah demokrasi, sedang apabila negara yang belum memiliki UUD pemerintah yang sebaiknya adalah demokrasi, sedang yang terburuk adalah monarkhi.

D. Aristoteles (384 – 322 SM)

Asal Aristoteles adalah dari stageira yang berada didaerah Thrake, Yunani Utara. Ia belajar di Akademia Plato di Athena, kemudian setelah Plato meninggal ia menjadi guru Pribadi Pangeran Alexander Agung sampai Pangeran menjadi raja. Setelah itu ia kembali ke Athena dan membuka sekolah Lykeion. Walaupun ia sangat menjunjung Plato, tetapi ia memiliki gaya filsafatnya sendiri. Plato mementingkan ilmu pasti sedang Aristoteles mengarah pada ilmu pengetahuan alam dengan sedapat mungkin menyelidiki dan mengumpulkan data-data konkret.
Aristoteles mengemukakan kritik yang tajam atas pendapat Plato tentang ide- ide . Namun aristoteles menyetujui anggapan Plato bahwa ilmu pengetahuan berbicara tentang yang umum dan tetap.
Hasil karya Aristoteles banyak sekali. Akan tetapi sulit menyusun karyanya itu secara sistematis.ada yang menyebut pemikiran Aristoteles meliputi atas 8 bagian yaitu: logika, filsfat alam, psikologi, biologi, metafisika, etika, politik dan ekonomi dan akhirnya retorika dan poetika.Ada juga yang menguraikan perkembangan pemikiran Aristoteles meliputi 3 tahap yaitu:
a) tahap di Akademi, ketika ia masih setia kepada gurunya, Plato, termasuk ajaran Plato tentang idea;
b) tahap ia di Assos, ketika ia berbalik dari pada Plato, mengritik ajaran Plato tentang idea- idea serta menentukan filsafatnya sendiri;
c) tahap ketika ia di sekolahnya di Athena waktu ia berbalik dari berspekulasi ke penyelidikan empiris, mengindahkan yang konkrit dan individual. Asal pembagian ini tidak diterapkan secara konsekuen konsekuen, kami kira dapat dipakai juga.
Ajaran Aristoteles yang mengenai fisika dan metafisika tidak senantiasa dapat dibeda- bedakan dengan jelas. Sebutan metafisika sebenarnya memang hanya suatu sebutan yang kebetulan saja. Istilah ini tidak berasal dari Aristoteles sendiri melainkan dari Andronikos dari Rhodos ( 70 SM ). Kata metafisika berasal dari kata meta ta fusika, meta mempunyai arti rangkap yaitu sesudah dan dibelakang.
Intisari ajaran Aristoteles yang mengenai fisika dan metafisika terdapat dalam ajaran nya tentang apa yang disebut dunamis dan energia.
Ajaran Aristoteles tentang manusia melalui 2 tahap. Dalam tahap pertama Aristoteles masih dipengruhi oleh Plato sehingga masih mengajarkan dualisme antara tubuh dan jiwa, serta mengajarkan praeksistensi jiwa. Akan tetapi kemudian ia meninggalkan dualisme dengan menjembatani jurang yang ada diantara tubuh dan jiwa. Keduanya dipandang sebagai dua aspek dari satu substansi yang saling berhubungan dan yang nisbahnya sama seperti nisbah antara materi dan bentuk atau antara potensi dan aktus.


Gita Prasetiani

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Loading...